DEKLARASI BALFOUR
Doktor Chaim Weismann adalah seorang pakar kimia yang juga menjadi juru bicara gerakan Zionisme di Inggris di awal abad ke-20. tokoh ini dekat dengan Lord Rothschild, seorang petinggi Zionis yang mengendalikan Eropa dari rumahnya di Judenstrasse, Frankfurt, Bavaria.
Di mata pemerintahan Inggris, Doktor Weismann adalah tokoh yang sangat dihormati karena penemuannya akan acetone, sebuah cairan kimia yang dibutuhkan dalam proses pembuatan cordite—sebuah propelan yang bersifat eksplosif yang amat berguna bagi sistem persenjataan Inggris. Dan kemenangan Inggis dalam Perang Dunia I (1914-1918) tidak lepas dari penemuan Weismann.
Perdana Menteri Inggris David Lyod-George mengundang Weismann dan mengucapkan rasa hormat dan terima kasih yang teramat tinggi. pemerintah Inggris memberi pakar kimia Yahudi itu sejumlah unag, dan bahkan berjanji bahwa apa pun permintaan Weismann, Inggris akan berupaya sekuat mungkin mengabulkannya.
Sebagai seorang aktivis gerakan Zionisme, kesempatan ini tidak disia-siakan Weismann. “Hanya satu yang saya inginkan,” uja Weismann, “Dan itu, yang saya inginkan, hanyalah sebuah ‘rumah’ untuk saudara-saudara saya.”
PM David Lyod-George mengangguk. Inggris menawarkan Uganda di Afrika agar bisa dijadikan rumah para Yahudi Diaspora. Namun Weismann menolak. Telunjuknya menunjuk peta Palestina. ‘Kami ingin tinggal selamanya di wilayah ini.”
David Lyod-George terkejut. Ia lalu menghubungi Menteri Luar Negeri Arthur James Balfour dan menyampaikan keinginan Weismann.
Inggris bukannya tidak memahami permintaan Weismann itu bisa mengandung hal-hal kontroversial, mengingat Palestina saat itu sudah merupakan satu negara Merdeka yang didiami oleh rakyatnya sendiri. Secara ideologis, rakyat Palestina sangat memusuhi Zionisme. Apalagi Palestina dikelilingi bangsa-bangsa Arab yang juga anti terhadap Yahudi.
Arthur James Balfour sempat tertegun dan menanyakan kembali hal itu. “Tuan Weismann, mengapa harus Palestina?”
Dengan bersungguh-sungguh Weismann menjawab, “Tuan Balfour yang mulia, jika saya menginginkan Paris atau London, pakah Anda akan berikan?”
Dengan cepat Balfour mengangguk, “Mengapa Tidak?”
Weismann tersenyum penuh arti, ”Terima kasih tuan Balfour, tetapi kami sudah terlanjur memiliki Jerusalem jauh ketika London masih berupa rawa-rawa. Kami ingin kembali kesana.”
Berkat kekuatan lobi Yahudi, Inggris akhirnya tunduk dan keluarlah Deklarasi Balfour pada 2 November 1917, yang kemudian dijadikan dalih bagi Yahudi-Diaspora untuk menyerbu Palestina dan mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri.
Sumber : Eramuslim digest, edisi 1:Israeli Nuke
